Menjaga Lingkungan dengan Syariat

Oleh : Harjoni Desky, S.SosI., M.Si
BERBAGAI permasalahan lingkungan terjadi, khususnya di Aceh akhir-akhir ini, seperti cuaca yang sangat panas, masih ditemukan pada beberapa kabupaten/kota di Aceh yang mengalami kekurangan sumber air bersih, baik dari dalam tanah maupun dari sungai. Selain itu, masih sering terjadi pembakaran hutan, tanah longsor, banjir, kekurangan bahkan kepunahan populasi binatang.

Mengulang kaji, tentang teori lingkungan, sesungguhnya, teori itu sudah berkembang sejak abad ke-18, karena perjalanan manusia pada akhirnya harus berhadapan dengan persoalan pengelolaan lingkungan akibat majunya ilmu pengetahuan, teknologi, dan revolusi industri pada abad ke-17. Akan tetapi, praktek modern untuk pelestarian alam (konservasi alam) sampai sekarang masih mencari bentuk alternatif yang tepat. Krisis lingkungan alam yang tengah terjadi belakangan ini, antara lain, diakibatkan kesalahan manusia (human error) dalam menanggapi masalah ekologi.

Mengutip apa yang telah dikatakan Lynn White seorang ahli sejarah, beliau mengatakan; apa yang dilakukan oleh manusia terhadap ekologinya tergantung pada apa yang mereka pikirkan tentang mereka sendiri dalam hubungannya dengan apa yang ada di sekitar mereka. Lebih tegas lagi dikatakan bahwa ekologi manusia sangat dipengaruhi oleh keyakinan tentang alam kita dan takdirnya, yaitu oleh agama. Lebih jauh lagi White memberikan argumentasi bahwa bahwa krisis ekologi sekarang ini tidak berakhir kecuali kita temukan agama baru atau kita pikirkan lagi agama lama?

Alangkah indahnya bila pelaksanaan Syariat Islam di Aceh hari ini, kita coba untuk tarik lebih luas dan lebar ruang lingkupnya sehingga meliputi persoalan lingkungan hidup. Jadi, institusi Syariat Islam memiliki kewenangan yang besar menangani persoalan lingkungan hidup. Mengapa ini penting? mengingat hakikat lingkungan hidup tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia sehari-hari, bahkan Alquran dan Hadis sangat memerhatikan perihal tersebut.

Dalam Islam, pemeliharaan lingkungan ditemukan dalam unsur praktis keseharian penganutnya. Khasanah pelestarian alam dan lingkungan sudah termuat dalam unsur perilaku sehari-hari yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam empat belas abad yang silam, termasuk dalam pengaturan tata kota dan peruntukan sumber daya alam yang asli.

Dalam Islam dikenal adanya kawasan haram, yaitu kawasan yang diperuntukkan untuk melindungi sumber daya agar tidak diganggu. Nabi menetapkan daerah-daerah yang tidak boleh diganggu dan dilanggar aturan ekosistemnya, membatasi aliran-aliran air, memelihara beberapa fasilitas umum dan kota-kota tertentu. Di dalam kawasan haram, fasilitas umum seperti sumur (penampungan air) harus dilindungi dari kerusakan. Ruang untuk operasi dan pertahanan sumur juga disediakan, termasuk melindungi airnya agar tidak terkena polusi. Nabi menyediakan tempat beristirahat bagi ternak serta menyediakan ruang bagi fasilitas-fasilitas irigasi.

Kehidupan liar (wildlife) termasuk dalam ketentuan yang dikenal dengan hima dalam aturan hukum Islam. Konsep hima, menurut Omar Naseef adalah kawasan yang didirikan khusus untuk perlindungan kehidupan liar dan hutan, yang merupakan inti undang-undang lingkungan Islam. Dengan demikian, hima adalah suatu usaha dalam melindungi hak-hak sumber daya alam yang asli. Hima ditetapkan semata-mata untuk melestarikan kehidupan liar dan hutan. Dalam konsep sekarang, seperti juga digunakan di Indonesia, hima ini sama fungsinya dengan cagar alam (nature reserve). Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam mencagarkan wilayah sekitar Madinah sebagai hima untuk melindungi tumbuh-tumbuhan dan kehidupan liar lainnya, sebagaimana telah diungkapkan di muka.

Mencontoh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, sejumlah Khalifah menetapkan pula beberapa hima. Khalifah Umar Ibn Khattab, misalnya, menetapkan hima al-Syaraf dan Hima al-Rabdah yang cukup luas di dekat Dariyah. Khalifah Utsman Ibn Affan, memperluas Hima al-Rabdah tersebut yang diriwayatkan mampu menampung 1000 ekor binatang setiap tahunnya. Sejumlah hima yang ditetapkan di Arabia Barat ditanami rumput sejak awal Islam dan dianggap oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebagai contoh yang paling lama bertahan dalam pengelolaan padang rumput secara bijaksana di dunia.

Syariat adalah suatu sistem nilai; dia ada untuk mewujudkan nilai-nilai yang melekat dalam konsep-konsep utama Islam, seperti tauhid, khilafah, istishlah, halal dan haram. Tujuan utama dari sistem ini adalah mewujudkan kesejahteraan umum yang universal bagi semua makhluk Tuhan, mencakup kesejahteraan manusia di masa sekarang maupun di masa depan (akhirat). Tujuan kesejahteraan umum yang universal adalah sesuatu yang khas dari syariat Islam dan merupakan implikasi penting dari konsep tauhid. Manusia dapat mematuhi Yang Maha Pencipta dari segala kehidupan dengan cara bekerja demi kesejahteraan umum yang universal bagi semua makhluk. Parameter tersebut dapat membedakan prilaku umat Islam dalam mentaati aturan, karena jika suatu peraturan tercakup dalam unsur syariat maka ia berarti mengandung unsur ibadah.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam telah meyakinkan bahwa kehidupan liar (wildlife) dan sumber daya alam lainnya mempunyai hak dalam Islam. Hal ini dicontohkan dengan perlakuan beliau terhadap binatang, tumbuh-tumbuhan, dan sumber alam lainnya. Dalam buku-buku sejarah tentang Rasulullah Saw diriwayatkan bahwa pribadi Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berperangai sangat kasih kepada bangsa hewan. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam melarang orang yang membebani binatang dengan muatan beban yang berat. Selain itu, Nabi melarang menyiksa atau membakar binatang dengan api. Hal ini terlihat pada kelanjutan riwayat perjalanan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersama sahabat-sahabat, seperti yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud. “Kemudian Nabi melihat sarang semut terbakar, maka beliau bertanya: Siapa yang membakar ini? Jawab kami: “Kamilah yang membakarnya ya Rasulullah”. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak harus menyiksa dengan api, kecuali Tuhan yang menjadikan api itu.”  Banyak hal yang dapat dipelajari dari kebijakan-kebijakan dan kearifan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam. melalui riwayat-riwayat hadis mengenai makhluk hidup.

Dalam Islam, hak azasi binatang juga dilindungi, sebagaimana kisah perjalanan sahabat bersama Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam di atas. Suatu yang khas dari hukum Islam bahwa semua binatang mempunyai hak hukum yang harus dilaksanakan oleh negara. Ahli hukum Islam klasik, Izzudin Ibn Abdis Salam, menetapkan bahwa hak-hak binatang menjadi salah satu unsur syariat.

Aturan-aturan Islam tentang ekosistem, yang bersumber dari Alquran dan Hadits Nabi, sesungguhnya adalah sebagai rahmat bagi kehidupan manusia dan semua species di alam ini. Kebiasaan dan prilaku Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam dalam pemeliharaan lingkungan (tumbuhan dan binatang) yang dicontoh dan diteruskan para sahabatnya mencerminkan suatu pola pemeliharaan ekosistem yang baik. Selayaknya, hal tersebut diteruskan para pengikutnya sampai hari ini.

Disamping melaksanakan aturan syariat sebagai ibadah mahdhah, umat Islam juga dapat memahami arti ibadah tersebut dalam hubungannya dengan alam, karena pembahasan tentang keseimbangan ekosistem sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Hanya saja, pembahasan aspek syariat dengan lingkungan hidup belum begitu mendapat sorotan di Aceh dan Indonesia. Padahal ketaatan umat Islam dalam memilih makanan yang halal masih sangat dipatuhi di negeri ini. Berdasarkan hal di atas, satu hal yang perlu mendapat perhatian; prilaku masyarakat yang mayoritas muslim di Aceh dan Indonesia sangat menentukan terjaga dan lestarinya keseimbangan ekosistem.

* Harjoni Desky, S.SosI., M.Si adalah pemerhati Sosial Keagamaan Tinggal di Lhokseumawe

Satu Tanggapan to “Menjaga Lingkungan dengan Syariat”

  1. dealer pulsa Says:

    bumi adalah tanggung jawab kita untuk melestarikannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: