Puluhan Perempuan Berjilbab di Medan Hilang

* Diduga Pengikut Aliran Al-Haq di Aceh

Sekitar 38 perempuan berjilbab di Medan dinyatakan hilang. Mereka diduga terlibat dengan pengajian Al-Haq yang oleh MUI dinyatakan sebagai ajaran sesat. Berkembang pula isu bahwa para perempuan tersebut direkrut untuk kegiatan terorisme di Aceh.

Informasi adanya kehilangan tersebut didasarkan pada laporan puluhan orang tua dari 38 anak perempuan yang hilang, ke Sentra Pelayanan Terpadu (SPK) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu), Senin kemarin. Kehilangan tersebut dilaporkan terjadi sejak 2008 lalu.

Beberapa wanita muda tersebut akhirnya ditemukan oleh orangtuanya di daerah Langsa dan Lhokseumawe, Provinsi Aceh, beberapa waktu lalu. Sehingga, kemudian muncul dugaan, hilangnya mereka terkait adanya perekrutan untuk kepentingan tertentu, seperti terorisme di Aceh.

Di antaranya yang berhasil ditemui adalah Nurhidayah. Dia ditemukan oleh orang tuanya, Bachtiar, di Kawasan Simpang Tiga, Langsa, Aceh Timur. Namun hanya satu bulan, Nurhidayah kembali pergi dari rumah dan hingga saat ini belum ditemukan. Bachtiar mengatakan, saat di rumah Nurhidayah pernah bercerita bahwa dia mengikuti kelompok pengajian yang bernama AL-Haq.

Hingga saat ini, beberapa korban masih belum ditemukan. Sebagian besar mereka merupakan mahasiswa dan alumni dari sejumlah kampus di Medan.  Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Oegroseno mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Polda Aceh untuk mendalami semua laporan yang masuk dan menelusuri kemungkinan hilangnya 38 remaja putri yang diduga mengikuti aliran Al-Haq di Aceh. Dia belum dapat memastikan, hilangnya wanita tersebut terkait dengan jaringan teroris di Aceh. “Masih kita sedang dalami, saya tidak berani komentar takut tidak pas,” tegasnya.

Aliran sesat
Terkait dengan aliran Al-Haq, Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut, Ramlan Yusuf Rangkuti, mengatakan, ajaran aliran Al-Haq adalah sesat karena tidak sesuai dengan hukum dan syariat agama Islam.  Dasarnya adalah setiap kegiatan dalam ajaran Al-Haq yang dilaksanakan secara rahasia dan tidak boleh diketahui oleh orang lain. Menurut dia, kasus serupa sudah pernah ditemukan pihaknya di Pematangsiantar pada 2007. MUI setempat pun menyatakan bahwa aliran ajaran Al-Haq sesat dan menyesatkan.

Tidak terkait teroris
Sementara itu, pengamat terorisme, Al Chaidar, mengatakan, kecil kemungkinan para remaja putri tersebut direkrut oleh kelompok teroris di Aceh. “Itu tidak terkait terorisme,” ujarnya. Menurut mantan aktivis NII ini, Al-Haq adalah nama lain dari NII KW 9 Al Zaitun. Selain Al-Haq NII KW 9 ini punya berbagai nama seperti Islam Suci, Islam Kafah, atau Alquran Suci.

Kelompok Al-Haq ini nampaknya sedang berkembang termasuk di Aceh dan Medan. Belum lama ini kata Al Chaidar, dirinya dihubungi oleh orang tua korban kelompok ini yang mengeluh anaknya banyak mencuri perhiasan dan barang berharga lain di rumah, karena terlibat kelompok ini. Sebab itu dia menduga, para remaja putri yang hilang ini juga hanya dijadikan alat untuk mengumpulkan dana bagi kelompok mereka. “Mereka dikumpulkan diindroktinasi. Ujung-ujungnya duit. Paling mereka dimintai uang, disuruh mencari dengan mencuri,” jelas Al Chaidar.

Hal senada juga diutarakan Anggota DPR Komisi III dari daerah pemilihan Aceh, Nasir Djamil. Katanya, meski ada kecurigaan para korban ini dimanfaatkan kelompok teroris yang ada di Aceh, sebaiknya polisi memperlakukan kasus ini seperti kasus kriminal lain. “Kejahatan bisa saja berkedok macam-macam, agama atau ekonomi atau yang lain,” kata Nasir.

Nasir mengaku selama ini belum pernah mendengar adanya aliran Al-Haq yang disebut-sebut ada di Aceh, namun menurut dia saat kunjungannya ke Aceh baru-baru ini, memang ditemukan beberapa aliran baru yang berkembang di masyarakat Aceh yang cenderung bersifat sesat. “Seperti memperlakukan Alquran dengan ditiduri, atau diinjak,” jelas Nasir. Nasir juga meminta kepada MUI agar lebih proaktif menertibkan aliran-aliran yang meresahkan masyarakat, agar kasus ini tidak terus berulang. “MUI di Aceh harus proaktif mencermati munculnya aliran-aliran semacam ini,” terangnya.(okz)



Satu Tanggapan to “Puluhan Perempuan Berjilbab di Medan Hilang”

  1. minniemine Says:

    Aneh,,,,,,,,gk mudeng T_T


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: