Kesadaran Bersyariat

oleh Khairizzaman (staf pada Dinas Syariat Islam Kab. Pidie,  peneliti PKPM Propinsi Aceh) (opini di  Serambi Indonesia, 12 Februari 2010, 08:35)
Al-Farabi, seorang filosof Muslim kenamaan, pernah mengkhayalkan sebuah negara sejahtera bersyariat yang disebutnya Madinah al-Fadhilah. Di negeri antah berantah itu, semua orang hidup bahagia. Tidak ada kecurangan, kejahatan, penganggur, dan tidak ada pejabat yang angkuh dan sewenang-wenang, tidak ada penderitaan.

Semua orang berkecukupan dan punya penghasilan yang halal. Semua orang mempunyai kesadaran yang tinggi untuk bertindak sesuai dengan syari‘at, berlaku jujur, adil dan optimistis. Negara pun sentosa. Impian al-Farabi, barangkali bisa diejawantahkan dalam bentuk imajinasi indah seperti itu.

Lalu, mungkinkah mimpi indah Al-Farabi tentang bangsa dan masyarakat yang mempunyai kesadaran tinggi terhadap syariat, adil dan makmur diwujudkan dalam konteks Aceh Darussalam yang menjalankan syariat Islam? Secara teoritis, pertanyaan tersebut sangat boleh dijawab. Dr. Abdus Salam, seorang muslim yang pernah menjadi Presiden India dan penerima Nobel bahkan menganjurkan umat Islam untuk “senantiasa bermimpi dan mentransformasikan mimpi itu menjadi sebuah kenyataan”. Namun realitas kehidupan masyarakat dan beberapa gejala sosial menampakkan kondisi sebaliknya bahkan terkesan seperti  “jauh panggang dari api” untuk dapat mewujudkan impian itu.

Sejumlah fenomena yang terjadi, membuat kita merasa miris dengan kondisi Aceh saat ini yang masih didera oleh berbagai problema yang krusial, struktural, dan kultural. Terjadi kesenjangan yang sangat lebar antara cita dan fakta dalam berbagai ranah kehidupan. Buktinya, aneka perbuatan tercela (al-af’al al-qabihah) terjadi di daerah yang menjalankan syariat Islam dan hampir seluruh penduduknya beragama Islam ini.

Satu sisi  syariat Islam menjadi harga mati di Aceh tetapi sisi lain kesadaran bersyari‘at sangat rendah. Korupsi, kolusi, nepotisme, politik uang, pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian dan perampokan terjadi di etalase islami ini dan hampir tidak pernah putus beritanya di media masa. Ini menjadi citra tersendiri yang sangat menyedihkan dan memilukan hati. Kejahatan dan pelanggaran syari‘at terus terjadi dan mengemuka dalam wajah kekerasan baik vertikal maupun horisontal.

Realitas masyarakat
Pasca pemberlakuan syariat Islam secara yuridis formal di Aceh, diamati belum memperlihatkan perubahan berarti dalam masyarakat. Keadaannya masih seperti era-era Aceh sebelumnya diberlakukan syariat agama Islam itu. Dalam beberapa aspek kehidupan, perubahan secara fisik memang telah terjadi secara kasat mata, seperti penulisan nama kantor, lembaga, institusi baik pemerintah maupun swasta, nama-nama pertokoan dalam bahasa jawi/Arab, cara berpakaian sudah berkecenderungan Islami, menghentikan seluruh aktifitas menjelang salat jumat dan lain-lain, namun belum diikuti prilaku masyarakat Aceh.

Kesadaran bersyariat terasa dipaksakan. Perubahan hanya masih sebatas bentuk fisik yang masih terlihat sangat lokal dan eksidentil. Tidak terlihat perubahan mental, dan lemahnya komitmen untuk membawa kesuksesan pemberlakuan syariat Islam? Misal, soal berpakaian muslimah, sebagian besar mengenakannya hanya karena ketakutan akan razia WH (wilayatul hisbah), bukan sebagai kesadaran beragama. Buktinya masih sangat mudah kita dapatkan di hampir setiap pojok kota kaum wanita berpakaian ketat. Mereka berasumsi itu hak pribadi tetapi sebetulnya di situ juga ada hak publik yang “mengganggu” pemandangan kaum pria. Kelompok ini akan terlihat berpakaian secara benar dan Islami kalau polisi syariat sering mengadakan razianya.

Demikian juga kesadaran menghentikan seluruh aktifitas menjelang shalat jumat. Memang telah ditunjukkan oleh sebagian warga dan mereka benar-benar ke masjid, tapi tak sedikit pula yang menghentikan aktifitasnya, namun tidak ke masjid untuk shalat jumat. Fenomena ini terjadi di berbagai tempat di Aceh. Lalu, dimana kesadaran ibadah kita?

Ironisnya, realitas itu dilakoni bukan saja dari kalangan non-terdidik dan para remaja atau pemuda saja, tetapi termasuk para orangtua dan berpendidikan tinggi. Masya Allah. Buktinya, di tempat-tempat tertentu, deretan mobil mewah terparkir jelas dengan baik layaknya di pelataran parkir masjid. Tentu ini bukan sebuah sikap yang bijak, tidak mendidik dan tak seharusnya ditunjukkan para orang tua kepada generasinya.

Patut menjadi renungan kita, jika tidak ada kesadaran personal, maka kepada siapa kita berharap syariat Islam tegak di bumi Aceh ini. Kesadaran bersyariat itu, bukan hanya sebatas fisik akan tetapi harus ada perubahan sikap dan mental, terutama para pemimpin yang menjadi contoh bagi masyarakat.

Bahwa kejahatan dan kekerasan di kalangan masyarakat bawah adalah hasil konstruksi sosial dan terkait dengan kejahatan kalangan atas yang mungkin lebih jahat. Sering, mereka  yang berkuasa dan punya uang akan menerjemahkan reformasi menjadi bebas menabrak hukum. Korupsi menindas buruh, politik uang di kalangan penguasa telah menelantarkan fakir miskin dan  memarginalkan kelompok-kelompok tertentu dan sejumlah prilaku lainnya yang menyayat hati dan melawan moralitas bangsa.

Tanggungjawab bersama
Upaya serius dan simultan yang dilakukan pemerintah (dinas terkait) dalam memberikan sosialisasi dan penyuluhan syariat serta didukung oleh semua elemen masyarakat, maka impian dan harapan masyarakat Aceh seperti imajinasi Al-farabi akan menjadi sebuah kenyataan. Aceh bisa kembali jadi model bagi daerah lain dalam hal pemberlakuan syariat Islam. Namun, jika Aceh gagal, maka tentu akan menjadi cemeti bagi daerah lain untuk tidak mengikuti jejak Aceh. Ini pertaruhan.

Menghadapi tanggungjawab besar yang dipikul Aceh, tidak ada cara lain, semua elemen masyarakat Aceh yang Muslim, harus komit dan bersama-sama dengan penuh kesadaran menjalankan syariat Islam sesuai Alquran tanpa mesti menunggu qanun-qanun. Bahwa sekalipun dalam konteks tertentu yang termasuk dalam aspek jinayat sangat ditentukan pelaksanaannya oleh adanya qanun-qanun syariat, namun sebagai umat beragama (Islam), kita harus membumikan hukum Islam mulai dari pribadi masing-masing.  Membumikan syariat Islam dimulai dari muda, misal, dengan berprilaku menjaga kebersihan dan ketertiban berlalu lintas tanpa harus takut kepada petugas dan ancaman hukuman. Kesadaran merupakan motivasi terkuat  setiap ajaran agama, bahwa kita hanya menjalankan kehendak Allah.

http://www.serambinews.com/news/view/23965/kesadaran-bersyariat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: