oleh : Fuad Mardhatillah UY Tiba
KEKHAWATIRAN dan reaksi dari berbagai pihak atas kembali terjadinya aksi pemurtadan di negeri syariat, bukanlah sikap konstruktif yang bisa menyelesaikan masalah. Dulu pernah saya katakan, bahwa aksi pemurtadan adalah suatu aksi yang selalu bisa “muncul dan tenggelam.”
Untuk diingat, aksi pemurtadan itu bukanlah aksi yang sekadar berlatar kepentingan agama, tetapi lebih bernuansa politis, yang sewaktu-waktu dipandang perlu dilakukan. Namun, secara sayup-sayup ia akan segera tenggelam dan menghilang, setelah para tokoh, elite agamawan, dan umat muslim lainnya telah cukup dibuat heboh.
Dalam satu dekade terakhir, peristiwa dan isu pemurtadan ini sedikitnya telah dua kali terjadi, mencuat ke permukaan dan cukup menghebohkan. Peristiwa pertama, terjadi beberapa bulan pasca-pencabutan DOM, sekitar akhir 1998, ketika ditangkap seorang perempuan warga negara asing, di Langsa dan ditemukan beredarnya kitab Injil berbahasa Aceh. Tetapi, seiring berjalannya waktu, isu tersebut menghilang dari pembicaraan dan pemberitaan media. Sementara perempuan warga asing itupun juga tak pernah jelas siapa sesungguhnya dia. Baca entri selengkapnya »
5.578227
95.358536