Antara Infotainment, Ghibah, Fitnah & Namimah

Jakarta,detiknews – Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh dengan tegas membacakan salah satu butir fatwa MUI sebagai hasil dari Munas VIII MUI, sore itu. Sementara pers dan masyarakat umum pun memang menunggu apa yang menjadi sikap MUI terhadap infotainment.

“Menceritakan aib, kejelekan, gosip, terkait pribadi orang lain hukumnya haram,” kata Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Saleh saat jumpa pers di Hotel Twin Plaza, Jl S Parman, Jakarta Barat, Selasa (27/7/2010) kemarin.

Haramnya infotainment pun kemudian meramaikan pemberitaan. Ni’am dalam perbincangan dengan detikcom mengatakan, berita infotainment memang sudah menjadi masalah yang cukup mengganggu hak publik.

“Infotainment adalah masalah yang sudah sedemikian menggangu hak publik untuk
mendapatkan tayangan yang bermutu. Kemudian Munas ke-VIII MUI adalah lembaga
permusyawarahan tertinggi yang mengkaji berbagai masalah. Kita inventarisir berbagai masalah, salah satunya soal berita-berita infotainmen itu,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh, dalam bincang-bincang dengan detikcom di Jakarta, Rabu (28/7/2010).

Terkait masalah fatwa haram berita infotainment, lanjut Ni’am, ada dua diktum penting. MUI sendiri menegaskan, tidak melarang infotainment-nya, tetapi soal kontennya yang berisi gosip dan membuka aib orang. Oleh karena itu, dalam pengumuman fatwa, kata ‘infotainment’ tidak dilekatkan dengan pengumuman fatwa haram melainkan kata ‘menceritakan aib’ dan seterusnya.

“Ada dua diktum penting. Kita tidak menyebutkan infotainment-nya! Tapi kontennya yang berisi membuka aib orang, membuka kejelekan orang dan gosip kepada khalayak,” kata Ni’am.

Menurut Ni’am, ada juga hal-hal dari kehidupan pribadi seseorang yang boleh diungkap ke publik. Syaratnya ada kepentingan syar’i dan membawa kebaikan untuk orang lain. “Ketika itu ada kepentingan yang bersifat syar’i, ada kebutuhan dan kebaikan, itu dibolehkan. Contohnya, untuk penegakan hukum, menyampaikan pengaduan atau laporan untuk meminta hukum atau fatwa hukum,” jelasnya.

Ni’am menjelaskan, hanya konten infotainment yang memiliki dampak negatif dan berada di ruang publik saja yang dilarang, termasuk unsur yang terlibat dalam mengekpliotasi berita itu sendiri. Setidaknya ada lima elemen yang dilarang atau diharamkan membuka atau membuat berita aib, gosip dan lain-lainnya.

Ni’am menyebutkan, pertama sumber berita, yaitu orang yang menceritakan aib itu
sendiri. “Kan sekarang ini banyak orang yang senang mempublikasikan, walaupun
itu aibnya sendiri. Ini tidak boleh, kepada satu orang saja tidak boleh, apalagi ke publik atau khalayak,” jelasnya.

Kedua, yang masuk larangan membuat berita aib dan gosip ini adalah wartawan atau insan infotaimentnya. Ketiga, media penyiaranya. Keempat, masyarakat sebagai konsumen, penonton, pembaca atau sebagai penggunanya. Kelima, pihak yang mengambil keuntungan dari berita gosip seperti Production House (PH), stasiun televisi, penerbit dan lain-lainnya.

“Lima elemen ini dilarang keras untuk menyiarkan berita berisi aib dan gosip itu, ini yang tidak boleh,” tegasnya.

Tentunya, terang Ni’am, MUI tak sembarangan dalam mengeluarkan fatwa haram
terkait persoalan ini. Menurutnya, sangat banyak dalil-dalil yang terdapat dalam Al Quran dan Hadist terkait soal ini. “Dalil-dalil larangan soal ini banyak. Bukan hanya fiqiyah saja, bahkan secara eksplisit dalam Al Quran juga ada,” ucapnya.

Lantas, apakah yang dimaksud MUI dengan gosip? Gosip menurut MUI tidak dipukul rata ke dalam satu definisi. Ada konsep Ghibah yang menurut ulama adalah berita atau informasi faktual tentang seseorang. Namun ketika dipergunjingkan, orang tersebut merasa tidak suka.

Sedangkan jika yang dijadikan bahan bergosip adalah sesuatu yang tidak faktual atau fiktif, hal itu disebut Fitnah. “Tapi kalau tak faktual, fiktif dan tak benar, itu namanya fitnah. Dalam Al Quran, tegas soal larangan ghibah dan fitnah ini,” tegasnya lagi.

Oleh karena itu, membuat berita gosip yang bersifat Ghibah ini dilarang, apalagi yang sifatnya membuka aib seseorang. Apalagi jika berita itu bohong alias Fitnah.

Ni’am kembali menegaskan, MUI sendiri sebenarnya tidak melarang atau mengharamkan infotainment, tapi hanya konten dan teknis menyajiannya. Hal senada juga diungkapkan oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

KH Hasyim Muzadi. PBNU sejak awal melarang berita infotainmen yang bersifat gosip (Ghibah) dan ada lagi satu kategori berita gosip yaitu Namimah atau adu domba.

“Waktu saya sebagai Ketua Umum PBNU telah ada kesepakatan musyawarah syuriah dan tanfidziyah bahwa hukum infotainmen, dalam wujudnya sekarang atau dulu, yakni berisi gosip dan adu domba (ghibah dan namimah) terhadap keluarga tertentu hukumnya haram, baik berdasarkan tektual agama maupun filosofi agama (Maqosidussyariah),” kata Hasyim Muzadi yang saat ini menjadi Ketua International Conference of Islamic Scholars (ICIS).

Oleh karena itu, Hasyim mengharapkan, agar DPR dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) segera memanggil para penanggung jawab serta penyebar berita infotainment untuk dimintai penjelasan. “Mereka harus dimintai keterangan, mengapa dia mencari uang dengan merusak suasana keluarga sekaligus mengeklpoitasi seks rendah masyarakat untuk memperkaya diri sendiri,” tutupnya.

Bagaimanakah tanggapan masyarakat soal fatwa haram ini? Febrianto (35), warga Kebayoran Lama Utara, menyetujui pengharaman konten infotainment. Menurut dia, infotainment seperti arwah gentayangan yang ditolak ulama dan juga tidak diakui sebagai karya jurnalistik. “Harus mengubah pola berita atau tayangannya yang sifatnya lebih edukatif dan informatif,” tegasnya.

Sementara Novi (45) warga Pondok Kelapa, Jakarta Timur mengaku, selama ini enggan melototi televisi yang isinya infotaiment. “Saya nggak pernah mau lagi nonton, sejak kasus pekerja infotaiment menggebrak mobil Nicky Astria beberapa tahun lalu,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun begitu, Novi menyatakan, media massa juga punya andil menyebarluaskan berita gosip. Mereka harus lebih berhati-hati dalam membuat berita dan tayangan. “Mempublikasikan acara itu dengan vulgar dan berdampak negatif pada anak. Contohnya, kasus ciuman Raul dan KD. Emangnya mereka pikir ini negara apaan?” ucapnya setengah bertanya.

http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=264:antara-infotainment-ghibah-fitnah-a-namimah&catid=1:berita-singkat&Itemid=50

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: